Blog Wowrack

Apa itu DRP (Disaster Recovery Plan) dan Cara Kerjanya

Disaster Recovery Plan atau DRP adalah sebuah perencanaan strategi terstruktur tentang bagaimana sebuah perusahaan dapat kembali pulih dengan cepat pasca bencana. Solusi ini diperuntukan bagi perusahaan atau organisasi yang bergantung pada Infrastruktur IT untuk beroperasi.

Bencana yang dimaksud merujuk pada bencana yang merusak seperti bencana alam yang bisa merusak hardware, kesalahan manusia seperti kebakaran, serangan siber dan lainnya, kegagalan software, konektivitas, hingga pemadaman listrik.

Bencana bisa terjadi kapan saja dengan kerusakan yang tidak dapat diperkirakan. Sebuah perusahaan harus membangun infrastrukturnya dari nol, jika mereka tidak mempunyai cadangan infrastrukturnya.

Dan seperti yang kita ketahui, membangun sebuah infrastruktur dari awal memerlukan banyak biaya, waktu, dan tenaga. Ketika bencana terjadi, seperti gempa bumi misalnya, kemungkinan besar perusahaan akan mengalami kerugian besar akibat rusaknya bangunan dan perangkat kerasnya. Pada akhirnya operasi perusahaan berhenti sementara atau malah terpaksa berhenti total.


Apa itu DRP (Disaster Recovery Plan)

Disaster Recovery Plan atau DRP adalah usaha untuk melindungi sistem ketika ada bencana, dan memang tidak bisa mencegah kerugian akibat rusaknya gedung atau perangkat keras Anda.

Namun, adalah cara utama agar perusahaan bisa pulih dan beroperasi normal lebih cepat ketika terjadinya bencana, karena infrastruktur dan data perusahaan bisa Anda akses kembali kapan saja.

Kesimpulannya disaster recovery plan (DRP) merupakan perencanaan untuk memulihkan sistem, data, aplikasi, dan infrastruktur IT perusahaan setelah terjadi gangguan atau bencana.

Contohnya adalah ketika server perusahaan terkena ransomware karena kelalaian karyawan, sehingga data terkunci dan tidak bisa diakses, maka DRP akan berfungsi dengan cara menentukan prioritas mana yang terlebih dahulu dipulihkan, siapa yang bertanggung jawab dan berapa lama waktu yang dibutuhkan agar layanan dapat kembali berjalan.

Maka dari itu, disaster recovery plan adalah bagian dari Business Continuity Plan (BCP).

DRP (Disaster Recovery Plan)


Cara Kerja DRP Pada Infrastruktur

Cara kerja Disaster Recovery Plan (DRP) adalah hampir mirip kerjanya Backup, yang mana data dan infrastruktur IT dari primary site diduplikat dan diletakan di secondary site.

Primary site adalah di mana data dan infrastruktur IT digunakan secara aktif, sedangkan secondary site ialah tempat di mana duplikasi disimpan.

Biasanya primary dan secondary site terletak pada lokasi yang berbeda. Sehingga, Jika bencana terjadi pada bencana pada primary site, perusahaan bisa langsung melakukan failover dan segera mengaktifkan infrastruktur pada secondary site.

Sehingga untuk sementara waktu menjadikan secondary site sebagai pusat operasi sementara. Dengan begitu, perusahaan dapat meminimalisir downtime, yang artinya bisa meminimalisir kerugian finansial maupun nama baik perusahaan tersebut.

Selagi menggunakan secondary site untuk beroperasi, perusahaan bisa melakukan rebuild infrastruktur pada site utama. Setelah rebuild infrastruktur selesai, pusat pengoperasian yang kini dilakukan pada secondary site, siap untuk dipindahkan kembali ke primary site.

Namun, penting untuk dicatat, sebelum menyalin semua data yang ada di secondary site, pastikan telah menghentikan segala proses pekerjaan yang sedang berjalan. Supaya, data dan sistem yang dipindahkan ke primary site akan tetap identik seperti semula sebelum terjadinya bencana.


Manfaat Memiliki Disaster Recovery Plan

Manfaat memiliki disaster recovery plan yang terencana akan membuat perusahaan Anda siap menghadapi berbagai macam gangguan. Berikut ini adalah berbagai manfaat yang akan Anda dapatkan jika menerapkan DRP dengan baik.

1. Menghindari Risiko Downtime

Downtime dapat merugikan bisnis Anda karena transaksi pembelian akan terhenti, aplikasi untuk karyawan akan berhenti sehingga semua kerja karyawan tidak bekerja produktif. Namun, dengan adanya DRP jika terjadi downtime, secondary site akan bekerja menggantikan server utama untuk menjalankan operasional.

2. Mempercepat Pemulihan Server

Dengan memiliki DRP bisnis Anda dapat menentukan sistem mana yang harus dipulihkan terlebih dahulu. Dalam proses sebelumnya angka Recovery Time Objective (RTO) sudah ditentukan, selanjutnya tinggal proses recovery data.

3. Melindungi Aplikasi Penting Dari Down

Setiap aplikasi memiliki tingkat urgency yang berbeda-beda, dengan adanya disaster recovery plan, aplikasi penting akan diutamakan agar tidak terjadi downtime, meskipun terjadi downtime biasanya tidak terlalu lama karena sudah ditentukan terkait Recovery Point Objective (RPO) yang membuat ada toleransi seberapa banyak kehilangan data yang hilang.

4. Mengurangi Kerugian Finansial

Gangguan sistem dapat menyebabkan transaksi terhenti, namun dengan adanya sistem recovery yang baik akan mengurangi kerugian finansial dengan cara meminimalkan durasi downtime saat server perusahaan tidak dapat bekerja.

5. Menjaga Keberlangsungan Operasional

Disaster recovery menjamin agar operasional karyawan tidak terhenti. Secondary site, backup, replication, dan recovery akan bekerja bersamaan untuk menjaga agar operasional tidak terhenti sesuai prioritas yang telah ditentukan.

6. Meningkatkan Kesiapan Menghadapi Serangan Siber

Serangan siber saat ini yang paling berbahaya adalah ransomware, virus ini dapat membuat aplikasi terkunci dan tidak bisa diakses sampai Anda membayar tebusan sejumlah uang kepada penyerang. Dengan adanya backup pada sistem DRP dapat mengembalikan data perusahaan yang terkunci akibat serangan ransomware.

7. Meningkatkan Kepercayaan Pelanggan

Jika perusahaan Anda sudah memiliki sistem disaster recovery, maka perusahaan Anda sudah memiliki sertifikasi yang dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan. Kesiapan terhadap bencana dan kehilangan data yang dapat dibuktikan dengan sertifikasi dapat menjamin data pelanggan akan aman meskipun server mengalami bencana.

8. Memenuhi Kepatuhan dan Audit

Untuk mendapatkan sertifikasi seperti ISO 27001, 9001 UU PDP, dan Audit SOX (Sarbanes-Oxley Act) dibutuhkan dokumentasi DRP dengan prosedur recovery yang dapat dipertanggung jawabkan.


Jenis-Jenis Disaster Recovery Plan

Setiap perusahaan membutuhkan strategi pemulihan bencana yang berbeda-beda. Jenis disaster recovery plan harus disesuaikan dengan ukuran dan budget perusahaan. Sehingga berikut ini adalah beberapa jenis-jenis disaster recovery yang dapat digunakan sebagai contoh untuk diterapkan pada bisnis Anda

1. Disaster Recovery Berbasis Data Center

Strategi ini menggunakan secondary site yang dipisah dari data center utama. Secondary site ini memang dibuat untuk mengambil alih layanan jika primary data center mengalami gangguan. DR berbasis data center banyak digunakan oleh bisnis yang membutuhkan uptime tinggi.

2. Disaster Recovery as a Service (DRaaS)

Disaster Recovery as a Service (DRaaS) adalah layanan pemulihan bencana berbasis cloud computing yang disediakan pihak ketiga seperti Wowrack guna mencadangkan sistem server perusahaan Anda pada penyedia layanan tanpa harus membuat sistem dari awal.
Cara kerjanya adalah dengan menyalin data dan sistem pada server perusahaan Anda ke server cloud penyedia layanan.
Sistem DRaaS sudah sangat canggih karena menyediakan sistem failover otomatis, artinya server utama akan otomatis beralih ke secondary site sepersekian detik jika terjadi down.
kelebihan dari DRaaS adalah Anda tidak perlu mengeluarkan investasi yang besar untuk membangun infrastruktur pemulihan sendiri.

3. Disaster Recovery Berbasis Virtualisasi

Pada jenis DR berbasis virtualisasi, ketika primary site mengalami kerusakan, maka akan langsung melakukan failover ke lingkungan virtual,
Salah satu manfaat menggunakan virtualisasi adalah biaya lebih hemat, karena tidak perlu membuat infrastruktur dan bisa menyewa VPS (virtual private server) untuk memindahkan data dari primary site.

4. Hybrid Disaster Recovery

Hybrid disaster recovery cara kerjanya adalah menggabungkan lebih dari satu sistem backup, dalam pengaplikasian hybrid disaster recovery adalah membuat sistem backup dengan server lokal (on-premise) dan dengan layanan cloud. Penggabungan keduanya membuat operasional perusahaan lebih aman, karena memiliki 2 jenis environment yang berbeda.

5. Disaster Recovery Berbasis Cold, Warm, dan Hot Site

Terakhir Anda dapat membuat strategi DRP berdasarkan klasifikasi cadangan. Dalam pembuatan sistem DR, ada 3 klasifikasi yaitu cold site, warm site, dan hot site.
Cold site adalah sistem pencadangan dengan tingkat kesiapan rendah. Cara kerjanya backup bisa berjalan namun harus dipersiapkan terlebih dahulu baru dapat digunakan.
Warm site adalah infrastruktur yang sudah siap, ketika sewaktu-waktu membutuhkan pemulihan maka pemulihan dapat dilakukan lebih cepat dibandingkan cold site.
Hot site adalah sistem dengan tingkat kesiapan recovery yang lebih baik karena memiliki sistem yang langsung aktif jika terjadi failover.
Pembuatan sistem ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis masing-masing, seberapa besar kesiapan dalam biaya dan target waktu RTO dan RPO.


Tahap-Tahap Disaster Recovery Plan

Karena DRP adalah salah satu strategi keberlangsungan bisnis, dalam pembuatannya haruslah dilakukan secara teliti sesuai dengan keadaan perusahaan, dan keadaan sekitarnya seperti geografis, network, dan sebagainya.

Terdapat beberapa poin yang perlu diperhatikan saat merancang Disaster Recovery Plan adalah sebagai berikut

Analisa Risiko

Ketika berbicara mengenai bencana tentu saja kerugian akan sangat bergantung pada apa yang mungkin terjadi. Untuk meminimalisir kerugian, pemilik usaha melalui DRP perlu melakukan beberapa penilaian dan analisis untuk memperkirakan risiko bencana apa yang mungkin akan dialami.

Penilaian tersebut haruslah mencakup bencana apa yang mungkin terjadi, serta apa dan siapa yang berisiko terkena bencana tersebut. Penemuan dari penilaian dan analisa akan digunakan untuk membuat strategi mencegah atau meminimalisir risiko.

Analisa Dampak pada Bisnis

Setelah mengetahui risiko apa yang mungkin akan dihadapi perusahaan, kemudian dilakukan evaluasi untuk mengetahui efek atau dampak dari risiko tersebut pada kelangsungan bisnis. Pada tahap ini, perusahaan dapat memprediksi akibat dari bencana yang terjadi, dari segi finansial maupun non-finansial seperti keamanan, marketing, reputasi, dan lain sebagainya.

Selain itu, pada tahap ini juga sebuah perusahaan bisa menetapkan golnya yang berkaitan dengan keamanan data. Melalui analisis yang didapatkan maka akan terlihat dampak negatif apa saja yang bisa dialami data perusahaan, lalu selanjutnya dapat diputuskan data security apa yang sebaiknya diterapkan.

Recovery Time Objective (RTO)

RTO adalah estimasi berapa lama sistem perusahaan bisa down tanpa mengakibatkan kerugian yang parah pada perusahaan. Pada, beberapa kasus sebuah sistem perusahaan bisa down selama selama beberapa jam atau beberapa hari tanpa menyebabkan kerugian untuk perusahaan.

Dengan mengetahui waktu aman perusahaan tersebut mengalami downtime, maka selanjutnya dapat dibuat standar waktu aman untuk memulihkan sistem. Sehingga, perusahaan dapat meminimalisir kerugian akibat downtime.

Recovery Point Objective (RPO)

Jika RTO adalah langkah pencegahan kerugian yang diperlukan sesaat setelah terjadinya bencana, RPO merupakan langkah pencegahan yang dibutuhkan pasca bencana. RPO sendiri langkah menerapkan titik aman untuk bisa melakukan backup dengan aman.

Karena poin utama DRP adalah membuat duplikat infrastruktur dan data utama untuk cadangan, maka perlu dipastikan bahwa data yang tereplikasi adalah data terupdate. Ada banyak tantangan

yang bisa menggagalkan penduplikatan data, salah satu di antaranya adalah kendala pada jaringan.

Dengan ditetapkannya RPO, kegagalan saat proses duplikasi pada waktu tertentu tidak akan memberikan kerugian besar. Proses backup atau duplikasi dapat dilakukan ulang mulai dari poin atau titik terakhir dilakukannya backup tanpa harus mengulang dari awal.

Lokasi Disaster Recovery Center (DRC)

DRC adalah di mana data dan infrastruktur IT hasil replikasi site utama disimpan. Hal utama yang perlu diperhatikan saat memilih DRC yaitu dimana lokasinya. Calon pengguna DRP sebaiknya memastikan DRC terletak pada lokasi yang aman, maksudnya adalah lokasi yang memiliki risiko rendah mengalami bencana alam. Serta penting untuk memeriksa fasilitas DRC, fasilitas yang tidak standar dalam segi maintenance maupun keamanan tentu memiliki risiko insiden lebih tinggi.

Selain itu, yang harus perhatikan pada DRC selain itu adalah jaraknya dengan letak data dan infrastruktur utama. Terdapat dua pilihan yang selalu menjadi pertimbangan.

Yang pertama, jika jarak antara DRC dan pusat data utama terlalu dekat, risiko DRC terdampak bencana yang sama menjadi lebih tinggi, namun kecepatan proses failover sangatlah cepat. Sebaliknya jika jarak DRC dan pusat data terlalu jauh, maka proses pemulihan akan lebih lama. Namun, risiko data terkena bencana pada waktu yang sama menurun.alur kerja DRP dan contoh disaster recovery plan


Cara Membuat Disaster Recovery Plan

Urut-urutan membuat sistem pemulihan bencana tidak hanya menyiapkan sistem backup saja, Anda juga harus menentukan skala prioritas pada sistem mana yang paling beresiko jika terjadi bencana. Cara membuat DRP, Anda dapat mengikuti alur-alur berikut ini

1. Assessment

Tahap pertama adalah assessment, yaitu menilai seluruh operasional bisnis , mana saja yang harus dibuat dibuat sistem back up nya, apa saja potensi-potensi risiko kerusakan, serta bagaimana cara pemulihannya.
Aspek-aspek yang harus Anda lakukan assessment adalah
Infrastruktur meliputi server yang digunakan, storage, jaringan yang digunakan, penempatan data center apakah ada secondary data center yang berbeda lokasinya dari data center utama.
Sistem dan aplikasi meliputi apa saja aplikasi prioritas, bagaimana sistem database, serta workload penunjang operasional.
Security meliputi sistem keamanan data, sistem firewall, serta potensi serangan siber jika terjadi recovery.
Personel, yaitu siapa saja yang bertanggung jawab terhadap sistem ketika proses pemulihan.
Hasil assessment adalah landasan utama dalam menentukan strategi disaster recovery yang baik dan aman.

2. Membuat Strategi

Setelah melakukan assessment dan sudah memahami apa saja yang dibutuhkan, langkah berikutnya adalah menyusun planning.
Pada tahap ini, Anda harus membuat target pemulihan workload. Dua hal yang harus ditentukan yaitu Recovery Time Objective (RTO) dan Recovery Point Objective (RPO).
RTO adalah seberapa cepat waktu yang dibutuhkan untuk mengaktifkan layanan setelah terjadi gangguan.
Sementara RPO adalah aturan dalam menentukan seberapa banyak kehilangan data yang dapat ditolerir dari backup terakhir.
Anda juga harus melakukan perencanaan berikut

  • Bagaimana membuat strategi recovery untuk setiap workload agar bisa aktif kembali.
  • Membuat urutan prioritas sistem mana saja yang harus pulih setelah terjadi bencana.
  • Menentukan metode backup dan replication, apakah full backup, incremental backup, differential
  • backup dan replikasi data apakah synchronous replication atau asynchronous replication
  • Menentukan lokasi recovery environment.
  • Membuat prosedur failover dan recovery.

Dengan planning yang baik, proses recovery akan lebih cepat dilakukan.

3. Merancang Lingkungan Recovery

Setelah Anda menentukan strategi, tahap selanjutnya merancang lingkungan disaster recovery.
Untuk membuat lingkungan recovery yang benar, data dari assessment harus dibuat redundant, namun dengan spesifikasi yang lebih murah dari primary site. Komponen yang harus dirancang antara lain

  • Virtual Machine (VM) dijadikan server pengganti untuk menjalankan aplikasi utama agar operasional tidak terhenti.
  • Membuat Storage (cloud atau on premise) guna menyimpan data backup yang digunakan selama proses recovery.
  • Jaringan yang dapat memindahkan beban kerja dari primary site ke secondary site sehingga aplikasi tidak terhenti.
  • Membangun Sistem Keamanan untuk melindungi lingkungan recovery dari serangan siber.
  • Membuat Sistem Replication yaitu menyalin data dari primary site ke secondary site.
  • Menentukan Lokasi backup, menyediakan lokasi atau infrastruktur yang dapat digunakan untuk pemulihan sistem.

4. Personnel

Teknologi saja tidak cukup dalam membuat DRP. Ketika terjadi bencana tentu Anda membutuhkan orang yang akan menjalankan skenario diatas yang sudah dibuat sebelumnya. Selanjutnya Anda harus menentukan beberapa hal berikut

  • Siapa yang bertanggung jawab mendeteksi dan melaporkan incident?
  • Siapa yang bertanggung jawab untuk mengaktifkan recovery plan?
  • Siapa yang bertanggung jawab mengembalikan kinerja server dan jaringan selama downtime?
  • Siapa yang bertugas untuk berkomunikasi kepada pengguna?
  • Pembagian tanggung jawab dapat mengurangi kekacauan yang timbul ketika terjadi bencana.

5. Pengujian

Pengujian dari sistem pemulihan bencana merupakan proses yang harus Anda lakukan secara berkala untuk menjamin prosedur yang sudah dibuat bisa dilakukan ketika terjadi bencana, selain itu, Anda harus melakukan pengujian pada sistem backup dan recovery apakah file dan proses pemulihan sistem berfungsi dengan baik saat terjadi bencana.


Kesimpulan

Disaster Recovery Plan (DRP) adalah tindakan untuk keberlangsungan bisnis saat terjadi bencana. Dengan dibuatnya replikasi data dan infrastruktur khusus, perusahaan akan dengan mudah tetap beroperasi pasca bencana.

Dengan layanan ini, selain meminimalisir kerugian finansial, perusahaan Anda nanti juga bisa meningkatkan kepercayaan pelanggan.

Wowrack Indonesia sebagai salah satu provider IT dengan solusi DRP, melakukan beberapa step untuk membuat DRP itu sendiri dimulai dari assessment, hingga testing.

Ketahui lebih lanjut mengenai proses pembuatan Disaster Recovery Plan dan disaster recovery center dari kami atau Konsultasikan kebutuhan DRC untuk perusahaan Anda segera dengan menghubungi sales kami di sales@wowrack.com atau melalui live chat di website kami di www.wowrack.com

Ayoni Sulthon

Halo, saya Ayoni Sulthon, seorang penulis teknologi dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam bidang TI dan infrastruktur digital. Saya lulusan Sarjana Ilmu Komputer dan memiliki keahlian khusus di bidang cloud computing, layanan hosting, keamanan siber, dan teknologi terbaru. Di Wowrack, saya mengubah penjelasan teknis menjadi informasi yang mudah dipahami.

Share this post on social media:

Tinggalkan komentar



Konsultasikan Sekarang!
Isi form berikut dan tim kami akan menghubungi Anda untuk memberikan solusinya

    © 2026 Wowrack dan afiliasinya. Hak cipta dilindungi undang-undang.