Disaster Recovery Center (DRC) adalah infrastruktur cadangan (secondary site) yang lokasinya terpisah guna menggantikan server utama ketika terjadi bencana dan juga dapat digunakan untuk proses pemulihan bencana.
DRC biasanya harus ditempatkan di lokasi yang berbeda dari primary site (server utama), agar saat melakukan mekanisme failover pada secondary site ini tidak ikut terdampak bencana seperti yang terjadi pada primary site.
Fungsi DRC tidak sama dengan Disaster Recovery Plan (DRP) :
DRC adalah infrastruktur beserta fasilitas lengkap seperti data center guna merecovery server utama saat terjadi bencana.
Sedangkan DRP adalah plan (rencana) yaitu menjalankan berbagai prosedur untuk melakukan proses pemulihan bencana.
Sampai sini apakah Anda sudah paham? jika belum, berikut ini adalah penjelasan lengkapnya!
Apa itu DRC (Disaster Recovery Center)?
DRC adalah fasilitas atau infrastruktur cadangan untuk pemulihan sistem IT ketika sistem utama (server utama) mengalami gangguan. Disaster recovery center dapat didirikan di dalam perusahaan maupun di luar perusahaan atau bahkan juga berupa layanan cloud yang fungsinya untuk failover atau membackup kerja server utama (primary site) yang diarahkan ke secondary site.
Cara kerja DRC adalah penyediaan fasilitas yang dimiliki sendiri oleh perusahaan maupun fasilitas yang dikelola oleh pihak ketiga. Infrastruktur pada disaster recovery center seperti halnya pada primary site, yaitu sistem server (colocation atau virtual server), salinan data pada server utama, perangkat jaringan ke server, sistem pendingin, sistem kelistrikan, sistem pencegah kebakaran dan komponen-komponen yang ada pada data center pada umumnya.
Manfaat DRC Bagi Perusahaan
Salah satu aset terpenting dalam sebuah perusahaan adalah data perusahaan. Sehingga, data perusahaan sebaiknya dicadangkan agar ketika terjadi kegagalan sistem data perusahaan Anda tetap aman.
Untuk itu perusahaan memerlukan DRC agar jika terjadi hal yang tidak diinginkan data perusahaan Anda tetap bisa diakses. Tak hanya itu saja, ada beberapa alasan mengapa perusahaan Anda perlu memiliki DRC
1. Menghindari Kegagalan Hardware
Meskipun perusahaan sudah memiliki teknologi canggih dalam pembuatan server, perusahaan tetap harus membutuhkan DRC, karena DRC adalah salah satu cara untuk mencegah terjadi masalah pada sistem.
2. Antisipasi Akibat Kesalahan Manusia
Human error atau kesalahan manusia masih sering terjadi pada perusahaan besar sekalipun, hal hal yang dapat terjadi karena kesalahan manusia pada perusahaan antara lain, terhapusnya data penting karena kelalaian user.
Untuk itu dengan menggunakan DRC Anda bisa mencegah kehilangan data karena kesalahan manusia dengan cara memulihkan data menggunakan backup.
3. Antisipasi Bencana Alam yang Tidak Dapat Diprediksi
Siapa yang tahu kapan bencana alam akan terjadi? tentu saja tidak ada yang tahu, untuk itu perusahaan yang baik tentu akan menyiapkan worst case atau kasus terburuk jika terjadi bencana alam sewaktu waktu, sehingga dengan memiliki DRC di beberapa lokasi yang berbeda dalam hal geolokasi maka data perusahaan akan aman jika terjadi bencana secara lokal.

Beda DRC vs DRP vs Backup vs Disaster Recovery
Istilah kata DRC, DRP, Backup, dan Disaster Recovery sering ditemui jika Anda sedang mengulik infrastruktur server. Namun, apakah keempatnya istilah ini memiliki fungsi yang sama? berikut kami buatkan tabel perbandingan agar Anda lebih mudah memahami perbedaan dari keempatnya.
| Istilah | Pengertian | Fungsi | Contoh Penerapan |
|---|---|---|---|
| DRC | Fasilitas, infrastruktur pengganti (secondary site) sementara untuk pemulihan bencana. | Menjadi tempat pengganti ketika data center utama mengalami gangguan | Sebagai data center cadangan dengan sistem server lengkap guna membackup kerja server utama |
| DRP | Dokumen maupun prosedur pemulihan sistem jika terjadi bencana atau gangguan. | Menjalankan prosedur jika terjadi bencana, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana proses pemulihannya. | Prosedur failover ke DRC, recovery sistem dan pengembalian ke primary site |
| Backup | Salinan data yang dibuat guna terhindar dari kehilangan data dapat digunakan kembali ketika data asli hilang atau rusak. | Menyediakan data salinan terbaru yang akan digunakan untuk restore. | Backup database, backup server atau backup VM |
| Disaster Recovery | Strategi dan juga layanan yang berfungsi untuk mengamankan data dari kerusakan akibat bencana atau serangan siber. | Mengembalikan fungsi server agar dapat berjalan normal kembali seperti sebelum terjadi bencana. | Membuat DRP, Melakukan backup data ke DRC, lalu failover ke DRC, lalu melakukan recovery sistem dan terakhir melakukan failback. |
Manfaat Disaster Recovery Center
Berikut ini adalah beberapa manfaat dari adanya disaster recovery
Agar Bisnis Selalu Berjalan Dengan Baik
Salah satu manfaat dari disaster recovery center adalah bisa mengamankan kinerja perusahaan agar bisa tetap beroperasi meskipun sedang terjadi bencana, bencana ini bermacam macam bentuknya, bisa jadi dari bencana alam seperti banjir atau bencana yang diakibatkan oleh serangan siber. Dengan adanya DRC artinya perusahaan sudah mengantisipasi terjadinya bencana ini, sehingga bisnis Anda tidak terdampak dan bisa melanjutkan operasional IT nya tanpa terkendala apapun.
Mencegah kehilangan data
Salah satu cara kerja dari DRC adalah menyalin data dan sistem aplikasi di tempat lain yang lokasinya berbeda, sehingga ketika terjadi kehilangan data akibat serangan siber. Contohnya ketika perusahaan Anda terkena ransomware, maka data yang dikunci oleh penjahat tetap bisa dipulihkan karena Anda memiliki backup di tempat lain. Dengan DRC maka perusahaan Anda bisa terhindar dari masalah besar kehilangan data akibat serangan ransomware.
Meningkatkan Keamanan Sistem IT Perusahaan
Sistem IT perusahaan adalah jantung dari sebuah perusahaan, jika sistem IT terjadi masalah, bisa jadi perusahaan akan berhenti beroperasi, maka dari itu salah satu manfaat disaster recovery center adalah mereplikasi (backup) sistem aplikasi di server yang berbeda dari server inti, sehingga jika sewaktu waktu ada masalah pada server inti, sistem aplikasi perusahaan bisa dialihkan ke sistem server kedua, Dengan adanya tata cara penanganan bencana ini perusahaan tetap bisa berjalan meskipun terjadi serangan virus ataupun kesalahan sistem.
Jenis - Jenis DRC
Jika Anda ingin membuat DRC, ada beberapa jenis pengaplikasian, setiap jenisnya memiliki perbedaan waktu pemulihan. Empat jenis yang sering digunakan adalah Cold Site, Warm Site, Hot Site, dan Cloud DR.
1. Cold Site
Cold Site adalah lokasi cadangan penempatan server yang memiliki fasilitas seperti halnya data center pada umumnya. Namun, perangkat server belum dikonfigurasi sepenuhnya.
Ketika bencana terjadi pada dan merusak primary site, perusahaan harus memasang dan mengkonfigurasi perangkat agar sistem dapat digunakan. Pada cold site, butuh waktu pemulihannya yang lama.
Perusahaan memilih cold site karena ingin memiliki lokasi data center cadangan dengan harga yang murah. Namun dampaknya adalah waktu pemulihan yang lebih lama agar sistem dapat kembali online sepenuhnya.
2. Warm Site
Tidak sama dengan cold site, Infrastruktur pada warm site sudah siap digunakan kapan, namun butuh beberapa konfigurasi saja untuk aktif ketika terjadi bencana.
Saat warm site diaktifkan, semua perangkat server dan perangkat jaringan sudah siap, tetapi tim IT butuh melakukan sedikit konfigurasi server, data untuk recovery pun sudah ada didalam warm site ini, sehingga waktu pemulihannya lebih cepat dibandingkan cold site.
3. Hot Site
Hot site adalah lokasi second site yang dibuat dengan tingkat kesiapan tinggi, sehingga perangkat server, jaringan, penyimpanan, sistem keamanan, dan berbagai komponen sidah siap melakukan backup dari server utama (primary site).
Proses pembuatan hot site adalah melakukan replikasi data pada primary site mendekati real-time. Jika terjadi bencana, hot site langsung dapat melakukan failover ke sistem cadangan sesuai prosedur dari DRP.
4. Cloud DRaaS
Cloud DRaaS adalah layanan penyedia infrastruktur cloud untuk lingkungan pemulihan bencana, ketika sistem utama (primary site) mengalami gangguan, maka workload pada server akan di failover ke lingkungan cloud.
Cloud DR hampir sama dengan hotsite, bedanya Anda tidak perlu membuat lingkungan server dari awal, tingga menyewa penyedia layanan cloud backup lalu menentukan resource, metode replikasi, jadwal backup, serta skenario DRP (disaster recovery plan).

Studi Kasus Cara Kerja Cloud DRC Untuk Klien Wowrack
Berikut ini adalah studi kasus cara kerja cloud DRC wowrack pada sebuah perusahaan yang menggunakan server untuk produksi. Perusahaan ini menjalankan aplikasi bisnis dan database di infrastruktur server on-premise (server yang ditaruh di dalam lingkungan perusahaan). Perusahaan tersebut kemudian bekerjasama dengan Wowrack untuk membuat cloud DRC untuk secondary site apabila terjadi gangguan pada server on-premise nya. berikut ini adalah proses step by step pembuatan cloud DR.
1. Assessment Infrastruktur Klien
Proses dimulai dengan tim dari Wowrack melakukan assessment pada perusahaan client. Kami memeriksa apa jenis server yang digunakan, apa sistem operasinya, apa saja aplikasi yang digunakan, apa jenis databasenya, berapa kapasitas storage, dan ada berapa banyak data yang harus diprioritaskan.
Langkah ini adalah dasar untuk menentukan bagaimana lingkungan Cloud DRC akan dibangun nantinya. Lalu kami menentukan target RTO dan RPO bersama klien sebagai bagian dari DRP (disaster recovery plan).
2. Menyiapkan Cloud DRC
Setelah kebutuhan sudah dicatat oleh tim Wowrack, selanjutnya kami menyiapkan resource cloud. Resource cloud ini mencakup virtual machine, storage, jaringan, dan komponen pendukung yang dibutuhkan untuk menjalankan aplikasi klien agar berjalan normal seperti primary sitenya.
3. Mereplikasi Data dan Sistem
Tahap berikutnya adalah membuat replikasi data workload dari server utama menuju lingkungan cloud.
Frekuensi replikasi akan disesuaikan dengan target RPO dari client, Jika client menginginkan target RPO yang kecil, maka sistem backup dan replikasi harus mereplikasi data yang semakin dekat dengan data pada server utama.
4. Melakukan Recovery Test
Sebelum lingkungan cloud digunakan ketika terjadi bencana, kami dan klien melakukan uji coba sistem recovery. Tim kami akan menjalankan server pada cloud, lalu melakukan pemeriksaan workload dari backup yang tersedia, menguji koneksi jaringan, serta mensetting agar pengguna dapat mengakses sistem dengan lancar.
5. Melakukan Failover ke Cloud
Selanjutnya melakukan uji coba failover ke lingkungan cloud. Tim Wowrack akan menjalankan server recovery, backup dari data terakhir akan digunakan, kemudian aplikasi dan layanan di cloud akan diaktifkan sesuai urutan dari planning DRP, selanjutnya user diarahkan menuju lingkungan Cloud DRC.
6. Monitoring Sistem Cloud
Setelah uji coba failover, sistem yang berjalan di cloud akan dipantau terus. Tim Wowrack melakukan pemantauan kondisi server, jaringan, resource cloud, aplikasi, dan proses recovery sampai infrastruktur utama siap dijalankan kembali.
7. Failback ke Infrastruktur Utama
Setelah masalah pada primary site sudah diperbaiki, sistem tidak langsung di rollback begitu saja. Data yang berubah selama berjalan di cloud harus disinkronkan terlebih dahulu. Setelah itu baru traffic dapat dikembalikan secara bertahap ke server produksi, proses ini disebut dengan failback.
8. Bisnis Kembali Berjalan Normal
Setelah kembali ke primary site, tim kami masih akan memantau apakah ada kendala dan melakukan sinkronisasi data selama proses failover tadi. Jika sudah tidak ada kendala lagi, maka dipastikan layanan pada primary site sudah bisa berjalan dengan normal lagi.
Cara Kerja Disaster Recovery Center
Berikut ini adalah cara kerja dari DRC yang biasanya sering digunakan oleh perusahaan.
1. Replikasi Data
Cara kerja DRC adalah agar perusahaan tidak kehilangan data karena disebabkan bencana alam, untuk itu sebaiknya perusahaan menerapkan sistem replikasi data, yang artinya data penting perusahaan akan diduplikasi beberapa kali di server yang berbeda yang juga lokasinya berbeda agar ketika terjadi bencana alam di server utama, tim IT bisa menjalankan dengan server cadangan.
2. Menggunakan Secondary Site
Jika terjadi bencana, Anda harus menyiapkan secondary site, karena saat primary site downtime, Anda bisa mengaktifkan secondary site secara otomatis. Jika Anda tidak menyiapkan case ini, maka operasional bisnis bisa sangat terganggu. Tak hanya itu juga, bisa jadi nama baik perusahaan Anda bisa turun. Dengan mengaktifkan secondary site, maka operasional bisnis Anda akan tetap berjalan seperti biasanya.
3. Memperbaiki Lagi Primary Site
Setelah bencana sudah selesai, Anda harus memperbaiki lagi perangkat perangkat yang rusak di primary site, Anda harus melakukan ini karena primary site agar bisa segera beroperasi kembali menjadi infrastruktur utama dalam bisnis Anda. Dalam masa pemulihan, perusahaan bisa menggunakan secondary site sampai primary site siap digunakan kembali
4. Pergantian data center
Jika primary site sudah selesai diperbaiki, dan tidak ada kendala lagi saat diujicoba saat dilakukan operasional. Maka Anda sudah bisa mengembalikan operasional utama menggunakan pusat data utama.
Cara Membuat DRC Dengan Hyper V Replication
Hyper-V Replication adalah salah satu fitur yang ada di Windows Server atau Hyper-V Server yang dapat Anda gunakan untuk proses Disaster Recovery. Sebagai contoh, ketika Node server utama Anda terjadi kerusakan, atau mungkin terjadi kebakaran di Data Center, maka Anda dapat dengan cepat memindahkan atau mengaktifkan kembali VM yang ada di server yang lain sehingga proses bisnis bisa tetap berjalan dengan baik serta mengurangi resiko adanya downtime.
Proses replikasi sendiri dapat dilakukan dalam beberapa rancangan, seperti berikut:
- Hyper-V Replication dari server A ke server B dalam satu lokasi Data Center
- Hyper-V Replication dari server A ke server B yang berada di kantor cabang lain
- Hyper-V Replication dari server A ke Cloud Server
Kelebihan dan Kekurangan DRC Dengan Hyper-V Replication
Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dari Hyper-V Replication. Berikut beberapa kelebihan dan kekurangan dari DRC Hyper-V Replication :
Easy GUI
Dengan adanya Hyper-V manager, proses management Hyper-V Replication menjadi sangat mudah. Hal ini juga dapat dilakukan secara remote, sehingga Anda tidak perlu melakukan proses management Hyper-V secara off-site.
Free License
Anda tidak memerlukan lisensi tambahan untuk mengaktifkan fitur Hyper-V Role di Windows server. Lisensi hanya diperlukan untuk Windows Server host dan VM yang ada di dalam Hyper-V tersebut.
Failover harus dilakukan secara manualHal ini dikarenakan Hyper-V Replication lebih ditujukan untuk Disaster Recovery, dan bukan sebagai High Availability feature. Sehingga diperlukan campur tangan System Admin untuk mengaktifkan VM Replika.
Membutuhkan koneksi yang stabilProses sinkronisasi Hyper-V Replication membutuhkan koneksi yang stabil antar Hyper-V Node untuk menjaga konsistensi data. Terlebih lagi jika Node kedua berada di site yang berbeda.
Syarat Hyper-V Replication
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum mengaktifkan disaster recovery center dengan Hyper-V Replication. Berikut ini adalah beberapa syarat yang bisa dilakukan :
- Dua Hyper-V host dengan processor bisa digunakan dengan pilihan virtualisasi seperti Intel Virtualization Technology (Intel VT) dan AMD Virtualization (AMD-V)
- Cek storage Anda, apakah cukup untuk menyimpan VM data
- SSL Certificate. Tentunya ini hanya bersifat opsional, jika Anda menginginkan transfer data antar Hyper-V host dengan menggunakan fitur “Encryption”
- Koneksi network antara Primary Hyper-V Node dan Replika Node
Step by Step Membuat DRC Dengan Hyper-V Replication
Jika Anda telah mengaktifkan Hyper-V Role di Windows Server, maka Anda dapat menggunakan Windows Server 2012, 2012R2, 2016 atau 2019. Jika belum, maka Anda perlu mengaktifkan terlebih dahulu Hyper-V Role di Windows Server Anda. Bagaimana caranya?
Mengaktifkan Hyper-V Replication menggunakan GUI
1. Buka Hyper-V manager melalui server manager atau start menu

2. Di Hyper-V Manager, klik pada “Hyper-V Settings” pada panel sebelah kanan

3. Klik pada “Replication Configuration” dan pastikan konfigurasi Hyper-V Replication seperti pada gambar berikut:

Untuk “Default location”, Anda bisa memasukan lokasi yang Anda inginkan
4. Simpan perubahan konfigurasi yang telah dilakukan
Demikian cara implementasi Hyper-V Replication untuk proses disaster recovery plan (DRP). Seperti yang kita ketahui, DRP akan menyelamatkan dari resiko kerusakan yang mungkin dapat dialami, hingga adanya resiko downtime. Wowrack Indonesia menyediakan layanan TI, managed services, hingga dapat membantu untuk setting DRP perusahaan Anda.

