Blog Wowrack

Disaster Recovery: Cara Kerja, DRaaS dan Contohnya

Dapat kita ketahui bahwa menyimpan data menggunakan teknologi tidak semerta-merta kebal dari terjadinya gangguan dan juga bencana. Bencana bisa terjadi akibat terganggunya sebuah jaringan, serangan cyber, dan juga kerusakan device akibat dari human error atau bencana alam. Sehingga, untuk mengembalikan data yang hilang, perusahaan disarankan untuk melakukan Disaster Recovery Plan.

Disaster recovery sendiri diambil dari kata Disaster yang artinya bencana dan Recovery yang dapat diartikan sebagai pemulihan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Disaster Recovery merupakan sebuah proses pemulihan pada suatu sistem apabila terjadi sebuah bencana.

Apa itu Disaster Recovery?

Cloud Disaster Recovery adalah sebuah strategi dan juga layanan yang berfungsi untuk mengamankan sebuah data, aplikasi, dan sumber daya lainnya ke public cloud dan penyedia layanan khusus. Strategi ini banyak digunakan oleh perusahaan dikarenakan lebih menghemat ruang, waktu, biaya dan juga sistem yang lengkap dibandingkan dengan Disaster Recovery tipe lainnya.

Kenapa Perusahaan Butuh Disaster Recovery

Disaster recovery memang dibuat untuk menghindari kerugian bisnis akibat sistem down karena data tidak bisa diakses.

Namun dalam kenyataan, berikut ini adalah pentingnya DR bagi perusahaan.

Kerugian Bisnis Akibat Downtime

Jika Anda menganggap downtime adalah gangguan teknis biasa, masalahnya adalah berapa banyak kerugian yang ditimbulkan akibat website tidak bisa diakses, berapa banyak orang yang tidak bisa bekerja karena sistem mati? padahal, setiap menit jika sistem tidak aktif bisa menjadi kerugian bagi bisnis Anda.

Pada bisnis e-commerce misalnya, downtime saat jam sibuk bisa langsung menghentikan transaksi, pelanggan yang terganggu maka bisa langsung pindah ke kompetitor.

Untuk itu disaster recovery hadir untuk mengurangi dampak kerugian akibat downtime ini.

Data Bisa Lebih Aman

Kerusakan hardware, kesalahan konfigurasi, atau kesalahan akibat karyawan bisa menghapus data penting perusahaan.

Yang paling berbahaya adalah jika perusahaan tidak tahu bahwa data tersebut sudah tidak bisa dipulihkan lagi.

Di sinilah akhirnya banyak perusahaan baru menyadari jika sistem backup saja tidak cukup.

Dengan adanya manajemen disaster recovery maka data tidak hanya disimpan, tetapi juga bisa dipulihkan ke kondisi tertentu.

Lebih Siap Menghadapi Ransomware

Serangan ransomware bekerja dengan cara mengunci semua data lalu meminta tebusan agar akses dibuka kembali.

Bayangkan perusahaan Anda yang tidak memiliki sistem backup yang baik berada dalam posisi harus membayar tebusan ? Lebih baik sedia payung sebelum hujan, siap backup dan recovery sebelum benar-benar terjadi serangan ransomware.

Memenuhi Aturan Regulasi

Untuk mendapatkan sertifikasi seperti ISO 27001, regulasi keuangan, kesehatan, hingga perlindungan data pribadi, setiap perusahaan harus memiliki kemampuan pemulihan sistem yang baik dan tersertifikasi.

Artinya, perusahaan Anda tidak hanya dituntut untuk menyimpan data yang aman, tetapi juga wajib memiliki kesiapan menghadapi bencana.

Layanan disaster recovery dapat membantu perusahaan Anda memenuhi aturan pemerintah dengan membangun sistem pemulihan yang baik.

Cara Kerja Disaster Recovery

Disaster Recovery (DR) bekerja melalui serangkaian proses yang bertujuan jika sistem bisnis down atau rusak, maka sistem bisnis dapat kembali beroperasi dengan lancar.

Dalam proses untuk mendapatkan sistem yang selalu berjalan normal, ada beberapa tahap yang harus dilakukan, antara lain replikasi data, sistem failover dan recovery. Berikut ini adalah detail penjelasan cara kerja disaster recovery.

1. Replikasi Data ke Lokasi Cadangan

Langkah pertama dalam DR adalah melakukan replikasi data ke lokasi backup atau disaster recovery site (DR Site).

Proses replikasi dapat dilakukan setiap menit maupun secara berkala tergantung budget perusahaan, karena semakin cepat replikasi, maka semakin besar biayanya.

Salinan data harus ditempatkan di lokasi yang berbeda untuk menghindari jika terjadi bencana di satu lokasi, contohnya jika terjadi banjir besar di daerah A, maka DR site di daerah B bisa digunakan karena tidak terkena banjir.

2. Failover Ketika Terjadi Gangguan

Ketika sistem utama terkena gangguan, DR akan bekerja dengan cara melakukan failover.

Failover adalah proses pemindahan layanan dari server utama ke server cadangan yang sudah disiapkan sebelumnya. Fungsi failover adalah agar sistem backup yang bekerja menggantikan sistem utama yang sedang rusak.

Prosesnya dapat berjalan secara otomatis maupun manual tergantung desain arsitektur yang sudah dibuat, tujuannya untuk menghindari waktu downtime yang lama.

3. Recovery dan Pemulihan Operasional

Setelah sistem backup aktif dan sistem kembali berjalan karena menggunakan server kedua, maka proses berikutnya adalah proses recovery atau pemulihan layanan, yaitu tim IT akan memperbaiki server yang rusak supaya layanan berjalan normal kembali di server utama, sistem tetap bisa diakses meskipun server utama sedang diperbaiki.

Setelah server sudah diperbaiki team IT akan melakukan failback, yaitu memindahkan kembali operasional dari lingkungan server cadangan ke server utama.

Memahami RTO dan RPO dalam Disaster Recovery

Keberhasilan dalam membuat sistem disaster recovery dihitung dari kemampuan perusahaan memenuhi target pemulihan yang telah ditetapkan. Dua matrik yang dapat digunakan untuk menilai keberhasilan DR adalah RTO (Recovery Time Objective) dan RPO (Recovery Point Objective).

RTO dan RPO pada disaster recovery

Pengertian Recovery Time Objective (RTO)

RTO adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan layanan bisa beroperasi dengan normal kembali setelah terjadi gangguan.

Misalnya sebuah perusahaan menetapkan waktu RTO hanya 1 jam saja. Artinya sistem bisnis harus kembali normal maksimal 1 jam setelah insiden terjadi. Artinya semakin kecil RTO, maka semakin cepat proses recovery.

Recovery Point Objective (RPO)

RPO adalah angka maksimal kehilangan data yang masih dapat diterima oleh perusahaan.

Sebagai contoh, jika perusahaan memiliki nilai RPO 15 menit, maka data yang hilang karena tidak di backup tidak boleh lebih dari 15 menit sebelum insiden terjadi.

Untuk mendapatkan nilai RPO yang rendah, perusahaan harus menggunakan teknologi replikasi data secara real-time, dan untuk mendapatkan ini semua, Anda harus menyediakan budget yang tidak murah.

Cara kerja disaster recovery

Contoh Disaster Recovery

Jenis jenis Disaster Recovery memiliki beberapa tipe seperti, Virtualized Disaster Recovery Plan, Network Disaster Recovery Plan, Cloud Disaster Recovery Plan, dan Data Center Disaster Recovery Plan

1. Network Disaster Recovery Plan

Network Disaster Recovery Plan merupakan jenis pemulihan bencana yang berfokus pada jaringan). Sebab jika tidak ada jaringan maka tidak akan ada pertukaran data pada server. Oleh sebab itu, jika jaringan mengalami gangguan, akses ke aplikasi, server, hingga layanan cloud bisa terputus.

DRP network ini adalah tata cara memulihkan jaringan, konektivitas internet, VPN, firewall, router, switch, serta perangkat jaringan dari bencana.

Cara Kerjanya adalah dengan membuat redundansi jaringan yaitu membuat jalur cadangan (backup line) dari dua ISP berbeda.

pengertian disaster recovery

2. Cloud Disaster Recovery

Cloud Disaster Recovery Plan adalah strategi pemulihan dari adanya bencana yang menggunakan teknologi cloud computing sebagai backup dari server yang Anda miliki saat ini. Semua data dan aplikasi yang ada pada server Anda akan direplikasi ke layanan cloud, sehingga ketika terjadi bencana, perusahaan dapat dengan cepat melakukan pemulihan (failover) ke layanan cloud.

Cloud DR lebih hemat karena perusahaan tidak perlu membangun infrastruktur fisik cadangan sendiri. Cara kerjanya adalah mereplikasi semua aplikasi ke cloud lalu didesain jika ada bencana maka akan secara otomatis server utama dialihkan ke layanan cloud.

Sinkronisasi harus dilakukan secara benar agar selalu memperbarui cadangan sesuai perubahan terbaru di sistem utama.

Setelah server utama pulih, data dipulihkan kembali dari cloud ke server utama lebih kuat dengan sistem keamanan cloud.

3. Data Center Disaster Recovery

Data Center DR berfokus untuk melakukan pemulihan infrastruktur server di data center perusahaan. Hal ini mencakup semua server dan semua perintilan-perintilan yang ada di data center.

DRP ini sangat penting jika perusahaan Anda masih menggunakan infrastruktur on-premise server. Cara kerjanya adalah dengan melakukan duplikasi infrastruktur yang ditempatkan di tempat yang berbeda (tidak satu lokasi)

4. Cloud-to-Cloud Disaster Recovery

Cloud to cloud adalah dengan menyimpan data utama di cloud dan memulihkannya ke cloud
pada waktu yang bersamaan. Pada pendekatan ini, Anda akan memutar mesin virtual dan databased di cloud, kemudian mengisinya dengan data dari cadangan berbasis cloud Anda jika terjadi bencana yang berdampak pada sumber daya lokal.

Selain itu, memisahkan data cadangan dan infrastruktur cadangan Anda dari pusat data lokal dapat mempercepat pemulihan bencana, karena biasanya akan membutuhkan lebih sedikit waktu untuk mentransfer data cadangan dari penyimpanan cloud ke VM (virtual machine) dan database cloud daripada memindahkan data antara cloud dan lingkungan lokal, atau sebaliknya.

Itu karena jaringan dalam cloud yang sama menawarkan lebih banyak bandwidth daripada Internet publik yang menghubungkan cloud ke lingkungan eksternal. Dalam merencanakan rencana terbaik untuk DR berbasis cloud, Anda harus mempertimbangkan beberapa faktor berikut.

Perbedaan Disaster Recovery, Backup, dan Replication

Banyak yang belum paham terkait perbedaan antara backup, replication, dan disaster recovery (DR). Padahal ketiganya memiliki fungsi yang berbeda, maka dari itu berikut ini adalah kami rangkumkan perbedaan dari ketiganya.

1. Backup

Backup adalah proses untuk membuat salinan data lalu menyimpan salinan tersebut ke lokasi berbeda (bisa dari lokasi tempat maupun perangkat).

Tujuannya adalah masih memiliki cadangan data ketika terjadi kehilangan maupun kerusakan.

Intensitas melakukan backup dilakukan secara berkala, mulai dari harian, mingguan dan bulanan.

Cara kerja

  • Data disalin dari sistem utama
  • Disimpan di storage lain bisa di cloud atau di on-premise server
  • Bisa kapan saja dipulihkan ketika dibutuhkan

Kelebihan backup

  • Melindungi dari kehilangan data
  • Cocok untuk arsip jangka panjang
  • Biaya relatif lebih rendah

Kekurangan backup

  • Tidak real-time
  • Proses restore bisa memakan waktu
  • Tidak menjamin sistem langsung aktif kembali
  • Backup fokus pada data bukan pada recovery

2. Replication

Replication adalah proses pem backup an data secara langsung bisa real-time atau hampir real-time dari sistem utama ke sistem cadangan.

Fungsi replication adalah jika sewaktu-waktu terjadi gangguan pada sistem utama, sistem replication sudah memiliki data yang sama dengan data saat ini dan siap digunakan untuk recovery.

Cara kerja

  • Data disalin secara terus-menerus
  • Sistem secondary selalu sinkron dengan primary
  • Siap digunakan kapan saja jika terjadi failover

Kelebihan replication

  • Recovery sangat cepat
  • Minim kehilangan data
  • Cocok untuk layanan penting

Kekurangan replication

  • Biaya mahal
  • Membutuhkan infrastruktur yang siap
  • Kompleksitas tinggi

3. Disaster Recovery

Disaster recovery adalah strategi yang saling terhubung antara backup, replication dan recovery data yang bertujuan untuk memulihkan sistem ketika terjadi gangguan.

Cara Kerja

  • Backup Server
  • Replication
  • Failover system
  • Recovery plan (RTO & RPO)
  • Infrastruktur cadangan

Kelebihan

  • Menjaga kelangsungan bisnis
  • Menghindari terjadi downtime
  • Mengurangi kerugian bisnis karena sistem downtime

Kekurangan

  • Membutuhkan team dengan perencanaan matang
  • Harga investasi tidak murah
  • Harus diuji secara berkala

perbedaan backup dan disaster recovery

Penempatan Data Backup Cloud vs Traditional Disaster Recovery

Selanjutnya akan membahas perbedaan dari cloud backup dan traditional disaster recovery, mana yang paling cocok untuk kebutuhan bisnis Anda.

Cloud backup bertujuan untuk menyimpan data dengan cara menyimpannya ke cloud. Sementara traditional disaster recovery dibuat untuk menjaga sistem agar tetap beroperasi dengan bantuan infrastruktur cadangan yang siap digunakan ketika sistem down.

Penempatan data pada Cloud Backup

Pada cloud backup data dari server dalam bentuk database aplikasi maupun file akan di backup ke layanan cloud yang berada di luar lokasi perusahaan.

Proses backup bisa dilakukan dengan otomatis bergantung setting dari team sysadmin dalam menentukan jadwal.

Data yang dibackup akan disimpan di cloud storage yang terenkripsi dengan bentuk redundansi untuk meningkatkan keamanan.

Manfaatnya adalah karena data berada di lokasi yang berbeda, maka data lebih aman dari resiko kehilangan akibat kerusakan server maupun bencana alam.

Penempatan data pada Traditional Disaster Recovery

Traditional disaster recovery menempatkan data backup di lokasi kedua atau disebut juga disaster recovery site.

Data server, aplikasi dan database akan di backup ke data center cadangan (biasanya masih dalam satu lokasi) dengan tujuan agar operasional bisnis tetap bisa berjalan meskipun infrastruktur utama down.

Mana yang Lebih Baik?

Jawabannya adalah tergantung pada kebutuhan bisnis Anda masing-masing.

Jika tujuan perusahaan adalah melindungi kehilangan data penting atau melindungi dari serangan ransomware, maka cloud backup adalah solusi terbaik.

Namun jika perusahaan ingin menjalankan sistem agar selalu uptime meskipun terjadi bencana maka disaster recovery adalah yang terbaik.

Dalam praktek di lapangan, bisnis saat ini akan menggabungkan cloud backup untuk menjaga keamanan data, sementara tetap membuat sistem disaster recovery untuk menjaga data dari gangguan besar.

penerapan penempatan disaster recovery

Layanan DRaaS (Disaster Recovery as a Service) Untuk Bisnis

Disaster recovery as a service (DRaaS) merupakan layanan dengan penyimpanan di cloud dan bertujuan untuk mengembalikan kinerja sistem dengan cepat ketika terjadi bencana. Dengan layanan ini, Anda tidak perlu lagi membangun infrastruktur disaster recovery konvensional sendiri. Sebab semua proses akan ditangani oleh penyedia layanan DRaaS.

Cara Kerja DRaaS

DRaaS bekerja dengan cara mereplikasi server dan aplikasi dari lingkungan produksi ke infrastruktur cloud yang memang disiapkan khusus untuk lokasi pemulihan. Sistem replikasi nantinya bisa di setting untuk real-time maupun terjadwal sesuai keinginan Anda.

Fungsi DRaaS sangat penting jika terjadi gangguan pada server utama, selanjutnya layanan DRaaS akan menjalankan sistem failover, yaitu secara otomatis akan memindahkan operasional ke lingkungan cadangan agar pelayanan tetap berjalan meskipun sedang ada gangguan di server utama. Setelah semua sistem utama sudah aman, team bisa melakukan proses failback untuk mengembalikan operasional ke server utama.

Manfaat DRaaS untuk Perusahaan

  • Lebih hemat dan efisien
  • Menghindari downtime berkepanjangan.
  • Mempercepat pemulihan aplikasi dan data.
  • Tidak perlu membangun dan mengelola data center backup sendiri.
  • Membantu memenuhi aturan compliance dan audit.

Perbedaan DRaaS dan Disaster Recovery Tradisional

Pada sistem disaster recovery tradisional Anda masih harus menyediakan infrastruktur backup server di lokasi kedua. Hal ini membutuhkan investasi CAPEX besar untuk membangun server, storage, jaringan, lisensi, serta biaya operasional.

Sedangkan pemakaian DRaaS menggunakan infrastruktur cloud pihak ketiga yang sudah terkelola, sehingga perusahaan membayar sumber daya yang digunakan dengan sistem sewa (OPEX).

Faktor yang Harus Dipertimbangkan dalam Disaster Recovery

Sebelum memutuskan untuk menggunakan layanan cloud untuk disaster recovery, ada baiknya untuk mempertimbangkan beberapa hal terlebih dulu.

Kebutuhan RPO dan RTO

Recovery Point Objective (RPO) dan Recovery Time Objective (RTO) merupakan sebuah parameter yang digunakan oleh perusahaan untuk mengetahui berapa banyak kehilangan data yang mungkin terjadi dan seberapa lama sistem tidak dapat diakses. Semakin cepat Anda membutuhkan data dipulihkan, semakin Anda mungkin perlu berinvestasi dalam pemulihan bencana berbasis cloud yang dapat membuat beban kerja Anda meningkat dan berjalan lagi dengan cepat.

Biaya

Semakin banyak biaya yang Anda investasikan pada cloud backup dan cloud recovery akan semakin canggih juga recovery plan Anda. Banyaknya biaya yang akan anda keluarkan untuk DR configurations menjamin recovery yang lebih cepat dan lebih dapat diandalkan.

Administrasi

Semakin banyak cloud environment dan sumber daya cloud yang telah Anda jalankan sebagai bagian dari rencana pemulihan bencana Anda, semakin banyak waktu yang harus Anda habiskan untuk mengelolanya (belum lagi menjaga mereka tetap aman).

Berikut beberapa pertimbangan dan juga cara kerja cloud disaster recovery plan. Konsultasikan cara cara diatas kepada tim Anda dan juga provider cloud kepercayaan Anda untuk tercegah dari kecelakan data yang fatal.

Study Case Cara Implementasi DR di e-commerce

Bagi perusahaan yang bergerak di bidang e-commerce, sistem yang aktif 24/7 bukan lagi hal yang bisa ditawar, karena salah satu faktor yang dapat memengaruhi pendapatan secara langsung.

Ketika website downtime transaksi pembelian berhenti, pesanan gagal diproses, dan calon pelanggan pergi.

Karena itu, banyak perusahaan e-commerce wajib menerapkan sistem disaster recovery (DR) agar tidak merugikan perusahaan.

Berikut ini adalah contoh implementasi DR pada sebuah perusahaan e-commerce yang melayani ribuan transaksi per hari.

  1. Sistem yang dimiliki

Sebuah sistem e-commerce di Indonesia menjalankan beberapa hal ini

  • Website
  • Menangani database transaksi
  • Menyediakan sistem pembayaran
  • Terdapat sistem manajemen inventaris
  • Terdapat dashboard operasional internal

2. Resiko yang di hadapi

  • Server mati
  • Gangguan pada data center
  • Mendapat serangan ransomware
  • Rusak karena kesalahan konfigurasi
  • Lonjakan trafik saat ada promo

Jika server utama mengalami gangguan selama beberapa jam saja, perusahaan berpotensi kehilangan ribuan transaksi dan menurunkan kepercayaan pelanggan.

3. Perusahaan Harus Menentukan Target RTO dan RPO

Sebelum membangun sistem disaster recovery, perusahaan harus menentukan target pemulihan terlebih dahulu.

4. Recovery Time Objective (RTO)

Perusahaan menetapkan kapan layanan harus aktif, jika di set dalam waktu maksimal 15 menit setelah terjadi gangguan.

5. Recovery Point Objective (RPO)

Perusahaan hanya dapat mentoleransi kehilangan data yang diperbolehkan maksimal selama 5 menit.

Artinya, data transaksi yang hilang tidak boleh lebih dari 5 menit sebelum insiden terjadi.

Target inilah yang nantinya menjadi landasan awal pembuatan sistem disaster recovery

6. Proses Membangun Lingkungan Disaster Recovery

Untuk memenuhi target tersebut, perusahaan menyiapkan langkah-langkah praktis di lokasi yang berbeda dari data center utama. Arsitektur yang digunakan terdiri dari

  • Production Site (server utama)
  • Lokasi A yang menangani seluruh transaksi pelanggan.

Komponen yang beroperasi menunjang bisnis

  • Web Server
  • Application Server
  • Database Server
  • Payment Gateway Integration

Pembuatan Arsitektur Backup

Lingkungan backup di cloud yang harus siap digunakan ketika sistem utama mengalami gangguan.

Komponen yang disiapkan menunjang recovery

  • Server standby
  • Database replication
  • Storage cadangan
  • Jaringan cadangan

Dengan sistem backup seperti ini maka sistem utama sudah memiliki salinan yang siap digunakan kapan saja.

7. Implementasi Replikasi Data

Agar data selalu tersedia di lokasi backup di lokasi B, perusahaan menerapkan mekanisme replikasi database secara near real-time.

Prosesnya setiap perubahan data transaksi akan langsung dikirim ke lingkungan Disaster Recovery. Data apa saja yang direplikasi?

  • Informasi pelanggan
  • Data produk
  • Riwayat transaksi
  • Status pembayaran
  • Data inventaris

Dengan replikasi yang berjalan tanpa henti hanya delay 5 menit saja maka risiko kehilangan data dapat ditekan seminimal mungkin.

8. Proses Ketika Terjadi Gangguan

Suatu hari terjadi kegagalan pada server utama yang menyebabkan website tidak dapat diakses.

Tim sysadmin yang monitoring langsung mendeteksi adanya gangguan.

Tim kemudian menjalankan prosedur failover.

  • Tahap Failover

Setelah tim IT menyatakan bahwa sistem utama tidak tersedia.

Maka traffic harus dialihkan ke lingkungan disaster recovery, server backup diaktifkan sebagai pengganti server utama dan aplikasi berjalan dari server cadangan terakhir pengguna kembali dapat mengakses website.

  • Recovery Setelah Server Pulih

Setelah penyebab server down berhasil diatasi, tim melakukan proses pemulihan dengan beberapa langkah ini

  • Memperbaiki server utama agar kembali stabil.
  • Menyinkronkan data terbaru dari DR Site.
  • Menguji aplikasi apakah sudah bisa beroperasi.
  • Melakukan failback ke lingkungan produksi.

Karena data di DR site sudah tersinkronisasi selama insiden berlangsung, perpindahan kembali ke sistem utama dapat dilakukan tanpa kehilangan transaksi pelanggan satupun.

Layanan Cloud Disaster Recovery Wowrack

Wowrack menghadirkan layanan disaster recovery untuk perusahaan di Indonesia yang belum memiliki sistem DR di cloud, Untuk itu Wowrack dapat membantu Anda dengan pilihan layanan DR antara lain:

  1. Cloud Disaster Recovery
  2. Network & Data Center Recovery
  3. Monitoring & Support 24/7

Dengan layanan dari kami, perusahaan Anda dapat menjamin uptime server hingga 99.9%.

Siapkah bisnis Anda menghadapi bencana? Konsultasikan kebutuhan Disaster Recovery bersama tim ahli Wowrack

Hubungi Kami

Tinggalkan komentar



Konsultasikan Sekarang!
Isi form berikut dan tim kami akan menghubungi Anda untuk memberikan solusinya

    © 2026 Wowrack dan afiliasinya. Hak cipta dilindungi undang-undang.